Sunday, 7 June 2009

Déjà vu, Alam Semesta, dan Lauh Mahfuzh

Dah lama gak posting, tapi ingat janji kemarin yang mau memuat tentang déjà vu jadi merasa berhutang, he2. Jadi aku coba memahami buku Pak Agus, yang menurut saya sulit dipahami, tapi tetap menarik. Tulisan ini saya jiplak (he2) dari buku itu, dan coba menuliskannya dengan urutan yang menurut saya agak enak diikuti. Mungkin masih banyak pandangan lain tentang déjà vu dan peciptaan alam semesta serta hubungannya denga Lauh Mahfuzh, tapi saya suguhkan yang saya tahu saja.

Mengambil dari Buku Pak Agus Mustofa, kalau 70% penduduk bumi mengalami deja vu yang dalam bahasa aslinya (Prancis) artinya “pernah melihat”. Dengan pendapat ini, para ahli psikologi mencoba melakukan eksperimen dengan memanfaatkan jasa hipnotis. Beberapa sukarelawan diminta untuk melihat benda tertentu dan mengingatnya lalu mereka dihipnotis sehingga lupa terhadap benda itu. Ketika benda itu diperlihatkan, mereka merasakan suasana seperti deja vu. Tapi teori ini di bantah oleh sejumlah pakar dan orang-orang yang mengalaminya sendiri seperti yang dialami Putri dari Pak Agus yang mengalami deja vu di Australia.

Teori yang kedua adalah “penundaan penglihatan” . Dikatakan, bahwa sebelum mata melihat kejadian tersebut, sebenarnya realitas itu sudah sampai ke otak lebih dulu beberapa menit. Dan saat saya chat dengan salah satu teman, kalau deja vu itu terjadi karena perbedaan waktu menangkap kejadian antara mata kiri dan kanan. Tetapi teori-teori kurang meyakinkan karena orang yang buta pun mengalami deja vu.

Teori yang ketiga dikemukakan oleh kalangan Budha. Menururt mereka, deja vu menjadi pembenar reinkarnasi. Bahwa penglihatan yang kita lihat sekarang sebenarnya adalah kejadian dari kehidupan masa lalu yang datang kembali ke masa sekarang.

Teori yang keempat adalah déjà vu sebenarnya adalah peristiwa yang memang benar-benar terjadi di “dunia parallel”. Karena semua peristiwa itu sebenarnya sudah ada dan tersimpan di dalam kitab induk (server atau data base) alam semesta, yang kita kenal sebagai Lauh Mahfuzh.

Lauh Mahfuzh ada disisi ‘arsy Allah dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Lalu apakah sebenarnya alam semesta itu? Berikut teori penciptaan alam semesta menurut pak Agus.

Alam Semesta diciptakan Allah berbahan dasar energi, yaitu saat terjadinya sop kosmos (cikal bakal alam semesta) yang berupa lautan energi semata. Bersamaan dengan itu, Allah menciptakan Ruang dan Waktu sebagai wadah bagi proses-proses yang erlangsung
Sesaat berikutnya diciptakan materi, yang merupakan bentuk lain dari energi, materi merupakan energi yang menggumpal. Materi dan energi bisa bolak-balik berubah satu sama lain.
Dalam waktu yang bersamaan Allah menciptakan informasi sebagai pengisi setiap energi, materi, ruang dan waktu. Informasi adalah “kalimat” Sang Pencipta yang disampaikan kepada makhluknya.
Informasi ini meresap ke dalam energi, materi, ruang dan waktu dalam bentuk urutan dan kombinasi kode-kode. Atau ”tanda-tanda” dalam istilah Al Quran. Ibaratnya, huruf-huruf yang membentuk kata, membentuk kalimat, membentuk paragraph-pragraf, menjadi bab, dan akhirnya menjadi buku.
Jadi alam semesta ini adalah buku. Di dalamnya terdapat informasi berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang menceritakan segala sesuatu : benda, sejarah, peristiwa, kehidupan, kematian, kebahagiaan, penderitaan, bahkan sampai kehancuran alam semesta ini di akhir sejarah waktu. Seluruh isi cerita buku ini sudah selesai dituliskan pengarangnya-Allah. Dia sudah tau awal cerita, isi cerita, dan akhhir cerita. Kita pun sebenarnya “boleh jadi” bias mengetahui cerita-cerita di bab-bab berikutnya, meskipun kita masih di bab-bab awal. Misalnya lewat mekanisme deja vu.

Sepertinya memerlukan pemaparan detail mengenai mekanisme déjà vu. Sambil memahami lagi buku Pak Agus, mekanisme Déjà vu InsyaAllah akan jadi bahan berikutnya dalam artikel blog ini.